Kenapa Pembungkusan Keripik Buah UMKM Batu Bermasalah? - INAGI

Kenapa Pembungkusan Keripik Buah UMKM Batu Bermasalah?

INAGI – Kalau kamu pernah main ke Kota Batu, pasti tahu dong kalau daerah ini terkenal dengan keripik buahnya. Dari keripik apel, salak, hingga nangka, hampir setiap sudut pasar atau toko oleh-oleh menjajakan produk ini.

Tapi, pernah nggak sih kamu beli keripik buah, sampai rumah bungkusnya sudah kempis, keripik melempem, atau bahkan sudah berubah rasa? Nah, inilah salah satu “drama” yang kerap menghantui pelaku UMKM di Batu: pembungkusan keripik buah yang belum optimal.

Masalah pembungkusan ini sering jadi batu sandungan, meski produknya enak dan banyak peminatnya. Mari kita bahas kenapa hal ini bisa terjadi, apa penyebabnya, dan bagaimana solusinya.

Kenapa Bungkus Itu Penting?

Secara ilmiah, keripik buah termasuk produk pangan dengan kadar air rendah. Tujuan utamanya adalah membuat buah lebih awet, renyah, dan praktis dikonsumsi. Tapi ada satu musuh utama: kelembapan udara.

Menurut Journal of Food Packaging and Shelf Life (2020), keripik buah sangat sensitif terhadap oksigen dan uap air. Jika kemasan tidak rapat atau tidak sesuai standar, maka keripik bisa cepat kehilangan kerenyahannya, mengalami oksidasi, bahkan berubah warna.

Bayangkan saja keripik itu seperti payung lipat. Kalau dilipat asal-asalan dan tidak disimpan di sarungnya, ujung-ujungnya bisa rusak. Sama halnya dengan keripik: kalau tidak dibungkus dengan benar, kualitasnya akan cepat turun.

BACA JUGA :

Kendala Umum dalam Pembungkusan Keripik Buah UMKM Batu

keripik buah

Beberapa masalah klasik yang sering dialami pelaku UMKM di Batu adalah:

  1. Kemasan tidak kedap udara
    Banyak UMKM masih menggunakan plastik tipis tanpa teknologi vacuum sealing. Akibatnya, keripik mudah melempem.
  2. Desain kemasan kurang menarik
    Produk enak sering kalah di pasar hanya karena bungkusnya terlihat “biasa saja.”
  3. Biaya kemasan yang mahal
    UMKM kerap dilema: mau pakai kemasan bagus tapi ongkos naik, atau pakai yang murah tapi kualitas turun?
  4. Kurangnya informasi pada label
    Masih ada pelaku UMKM yang hanya mencantumkan nama produk, tanpa informasi gizi, izin edar, atau tanggal kedaluwarsa.
  5. Standar berbeda-beda
    Ada UMKM yang sudah pakai standing pouch alumunium foil, ada juga yang masih mengandalkan plastik kiloan. Konsistensi ini sering jadi kendala dalam membangun citra brand.
  • Kementerian Perindustrian (2022) menyebutkan bahwa hampir 60% masalah produk UMKM pangan ada di sisi pengemasan.
  • FAO (Food and Agriculture Organization) menegaskan, kemasan yang tidak sesuai standar bisa memangkas umur simpan produk hingga 40%.
  • Penelitian Universitas Brawijaya (2019) tentang UMKM keripik apel di Batu menyatakan bahwa pengemasan vakum dapat memperpanjang daya simpan keripik hingga 6 bulan, dibandingkan hanya 1–2 bulan pada kemasan biasa.

Apakah Usahamu Mengalami Kendala Ini?

Coba cek, apakah kamu mengalami hal-hal berikut pada bisnis keripik buahmu?

  • Produk cepat melempem setelah dibungkus
  • Ada pelanggan komplain soal kemasan yang mudah sobek
  • Desain bungkus masih polos tanpa branding jelas
  • Biaya kemasan sering bikin dilema
  • Belum ada informasi tanggal produksi dan kedaluwarsa
  • Kesulitan menjaga konsistensi kualitas antar batch

Kalau lebih dari tiga poin tercentang, berarti kamu sedang menghadapi masalah serius di pembungkusan.

Studi Kasus “Keripik Apel Bu Sari”

Sebut saja namanya Bu Sari, salah satu pelaku UMKM keripik apel di Batu. Awalnya, ia hanya menggunakan plastik bening biasa dan staples untuk menutup kemasan.

Keripiknya enak, tapi banyak pelanggan yang komplain karena setelah dua minggu keripik sudah melempem. Akhirnya, penjualan pun menurun.

Lalu, Bu Sari mencoba menggunakan mesin vacuum sealer sederhana dan berinvestasi pada standing pouch alumunium foil. Meski biaya kemasan naik sekitar 20%, ternyata dampaknya besar:

  • Produk lebih tahan lama
  • Tampilannya lebih profesional
  • Bisa masuk ke toko oleh-oleh besar

Hasilnya? Penjualan naik hampir dua kali lipat dalam waktu enam bulan.

Tabel Perbandingan: Kemasan Tradisional vs Kemasan Modern

AspekKemasan Tradisional (Plastik Tipis)Kemasan Modern (Vacuum/Standing Pouch)
Daya Tahan Produk1–2 minggu4–6 bulan
KerenyahanCepat hilangTerjaga lebih lama
Tampilan VisualSederhana, kurang menarikPremium, lebih profesional
BiayaLebih murah di awalLebih mahal, tapi bernilai jangka panjang
Kepercayaan KonsumenRendahTinggi, lebih mudah masuk pasar luas

“Bungkus Keripik Bukan Bungkus Nasi Uduk”

Kadang ada pelaku UMKM yang bilang, “Ah, pakai plastik apa saja kan bisa.”
Ingat, keripik buah bukan nasi uduk. Kalau nasi uduk dibungkus seadanya mungkin masih oke karena langsung dimakan. Tapi keripik buah? Harus bertahan berbulan-bulan di rak toko atau koper wisatawan. Jadi, jangan disamakan, ya! 😄

Bungkus Bukan Sekadar Bungkus

Dari pembahasan ini, kita bisa simpulkan bahwa masalah utama pembungkusan keripik buah UMKM Batu terletak pada kualitas kemasan, biaya, dan konsistensi standar.

Padahal, bungkus bukan sekadar wadah. Ia adalah wajah pertama produk yang dilihat konsumen, sekaligus tameng untuk menjaga kualitas.

Investasi di kemasan mungkin terasa berat di awal, tapi percayalah, itu adalah tiket masuk menuju pasar yang lebih luas dan profesional.

Home Shop Cart Account
Shopping Cart (0)

No products in the cart. No products in the cart.