INAGI – Kalau kita bicara Kota Batu, satu hal yang hampir selalu terlintas di kepala adalah apel. Kota ini sudah lama dikenal sebagai sentra apel nasional, bahkan menjadi ikon wisata agro di Jawa Timur. Dulu, hampir di setiap sudut Kota Batu, kita bisa menemukan toko oleh-oleh yang memajang keripik apel sebagai produk andalan.
Namun belakangan, muncul pertanyaan yang mulai sering terdengar:
“Kok produsen keripik apel di Kota Batu sekarang terasa makin sedikit, ya?”
Bukan cuma perasaan. Banyak pelaku usaha lama yang berhenti produksi, ada pula yang beralih ke produk lain. Artikel ini akan mengajak Anda melihat fenomena ini lebih dalam—bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik berkurangnya produsen keripik apel di Kota Batu.
Dari Ikon Kota ke Produk yang Mulai Tersisih
Keripik apel dulunya bukan sekadar camilan. Ia adalah simbol kreativitas warga Batu dalam mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. Tapi seiring waktu, tantangan yang dihadapi produsen semakin kompleks.
Menurut data dan pengamatan lapangan yang sering dibahas dalam kajian UMKM pangan daerah, produk berbasis buah segar memiliki tingkat kerentanan yang tinggi jika tidak diimbangi dengan inovasi proses dan strategi bisnis yang adaptif.
Keripik apel tidak terkecuali.
Tantangan Bahan Baku: Apel Tak Lagi Semurah Dulu
Salah satu faktor utama adalah perubahan pada ketersediaan dan harga apel. Produksi apel di Batu tidak selalu stabil dari tahun ke tahun. Faktor cuaca, alih fungsi lahan, dan regenerasi petani menjadi isu serius.
Menurut laporan dari beberapa kajian pertanian hortikultura dan rujukan Kementerian Pertanian, banyak kebun apel di Batu yang berkurang produktivitasnya karena usia tanaman dan pergeseran minat generasi muda dari sektor pertanian.
Analogi sederhananya begini: jika dapur Anda kehilangan bahan utama, mau sebagus apa pun resepnya, tetap sulit memasak.
Ketika harga apel naik atau pasokannya tidak konsisten, biaya produksi keripik apel otomatis ikut terdongkrak. Bagi produsen kecil, kondisi ini sering kali tidak sebanding dengan daya beli pasar.
BACA JUGA :
Proses Produksi yang Tidak Lagi Efisien
Sebagian besar produsen keripik apel tradisional masih menggunakan metode penggorengan konvensional atau vacuum frying generasi lama. Metode ini memang menghasilkan rasa yang khas, tetapi membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit, terutama dari sisi energi dan perawatan mesin.
Menurut beberapa publikasi di Journal of Food Processing and Preservation, teknologi pengolahan pangan yang tidak diperbarui akan mengalami penurunan efisiensi dan daya saing, terutama ketika pasar mulai menuntut produk yang lebih stabil kualitasnya.
Ibarat menggunakan ponsel lama di era aplikasi berat, lambat laun terasa tertinggal.
Persaingan Oleh-Oleh yang Semakin Ketat
Dulu, keripik apel hampir tak punya pesaing di etalase oleh-oleh khas Batu. Sekarang? Pilihannya jauh lebih beragam. Mulai dari keripik buah lain, olahan susu, kue kekinian, hingga produk UMKM modern dengan kemasan menarik.
Perubahan selera konsumen juga berperan besar. Generasi muda cenderung mencari produk dengan tampilan menarik, variasi rasa unik, dan cerita brand yang kuat.
Jika keripik apel hanya hadir dalam bentuk dan rasa yang itu-itu saja, ia pelan-pelan tergeser tanpa disadari.
Masalah Umur Simpan dan Konsistensi Produk
Meskipun keripik dikenal sebagai produk kering, keripik apel tetap memiliki tantangan tersendiri. Kandungan gula alami apel membuat produk rentan melempem, berubah rasa, atau mengalami penurunan kualitas jika pengemasan dan proses pengeringan tidak optimal.
FAO dalam beberapa panduan pengolahan buah menyebutkan bahwa produk berbasis buah dengan kadar gula tinggi memerlukan kontrol proses dan kemasan yang baik agar kualitasnya stabil selama distribusi.
Banyak produsen kecil kesulitan menjaga konsistensi ini, terutama saat permintaan naik turun.
Kurangnya Regenerasi Pelaku Usaha
Faktor yang jarang dibicarakan, tetapi sangat krusial, adalah regenerasi. Banyak produsen keripik apel merupakan pelaku usaha generasi pertama atau kedua. Ketika generasi muda tidak tertarik melanjutkan usaha keluarga, bisnis pun berhenti.
Menurut kajian UMKM berbasis keluarga, usaha yang tidak bertransformasi secara model bisnis dan teknologi cenderung sulit diwariskan.
Anak muda Batu mungkin masih cinta apel, tapi tidak selalu ingin bergelut dengan proses produksi yang berat dan margin yang makin tipis.
Tanda-Tanda Industri Keripik Apel Sedang Tertekan
Coba perhatikan beberapa kondisi berikut:
Jumlah toko oleh-oleh yang menjual keripik apel lokal berkurang
Banyak merek lama tidak lagi aktif produksi
Produsen beralih ke buah lain atau produk non-pangan
Harga keripik apel naik, tetapi kualitas stagnan
Jika tanda-tanda ini terasa nyata, artinya industri ini memang sedang menghadapi fase sulit, bukan sekadar perubahan selera sesaat.
Produsen yang Bertahan dengan Beradaptasi
Tidak semua cerita berakhir suram. Beberapa produsen keripik apel di Batu justru berhasil bertahan dengan mengubah pendekatan. Mereka tidak lagi hanya menjual “keripik apel”, tetapi pengalaman—mulai dari wisata edukasi, kemasan modern, hingga diversifikasi produk.
Menurut laporan dari beberapa inkubator bisnis pangan, UMKM yang bertahan adalah mereka yang mau berinvestasi pada proses, branding, dan pemahaman pasar.
Yang berubah bukan apelnya, tapi cara memandang bisnisnya.
Perbandingan Dulu dan Sekarang
| Aspek | Dulu | Sekarang |
|---|---|---|
| Bahan baku | Melimpah & murah | Lebih mahal & terbatas |
| Persaingan | Minim | Sangat ketat |
| Teknologi | Sederhana | Dituntut lebih modern |
| Selera pasar | Stabil | Cepat berubah |
| Model bisnis | Produksi saja | Perlu branding & inovasi |
Apelnya Masih Ada, Tantangannya Bertambah
Apel di Batu masih tumbuh, tapi tantangan bisnisnya ikut “matang”. Kalau dulu cukup goreng, kemas, dan jual, sekarang produsen dituntut berpikir lebih jauh. Bisa dibilang, bukan apelnya yang hilang, tapi margin keuntungannya yang makin tipis.
Berkurang Bukan Berarti Punah
Berkurangnya produsen keripik apel di Kota Batu bukan karena produk ini tidak lagi diminati, melainkan karena tantangan yang makin kompleks. Dari bahan baku, teknologi, hingga perubahan pasar, semuanya menuntut adaptasi.
Keripik apel tetap punya potensi besar sebagai identitas daerah. Namun, keberlanjutannya sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha untuk berinovasi, memperbaiki proses, dan membaca arah pasar.


