Kendala Apa yang Membuat Produsen Keripik Apel Berkurang di Kota Batu - INAGI

Kendala Apa yang Membuat Produsen Keripik Apel Berkurang di Kota Batu

INAGI – Kota Batu sudah lama dijuluki sebagai “Kota Apel”. Nama ini bukan sekadar branding wisata, tetapi lahir dari sejarah panjang pertanian apel yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakatnya. Dari apel segar, lahirlah berbagai produk olahan, dan salah satu yang paling ikonik adalah keripik apel.

Namun belakangan, banyak orang mulai bertanya-tanya. Saat berkunjung ke Batu, pilihan keripik apel tidak lagi sebanyak dulu. Beberapa merek legendaris menghilang, sebagian produsen memilih berhenti, dan ada pula yang beralih ke usaha lain.

Apa sebenarnya yang terjadi? Kendala apa yang membuat produsen keripik apel di Kota Batu semakin berkurang?

Artikel ini mengajak Anda melihat persoalan ini secara lebih utuh—dari sisi bahan baku, proses produksi, perubahan pasar, hingga tantangan regenerasi pelaku usaha.

Dari Produk Unggulan Menjadi Usaha yang Penuh Tantangan

keripik apel

Dulu, usaha keripik apel terlihat menjanjikan. Bahan baku tersedia di sekitar rumah, proses produksi bisa dilakukan skala rumahan, dan pasar oleh-oleh selalu ramai. Namun dunia usaha tidak pernah statis. Seiring waktu, tantangan datang dari berbagai arah, dan tidak semuanya siap dihadapi oleh produsen kecil.

Fenomena ini bukan hanya soal menurunnya minat, melainkan hasil dari akumulasi berbagai kendala yang saling berkaitan.

Kendala Bahan Baku: Apel Tidak Lagi Selalu Mudah Didapat

Salah satu kendala paling mendasar adalah perubahan kondisi bahan baku. Produksi apel di Batu tidak lagi sekuat satu atau dua dekade lalu. Beberapa laporan pertanian hortikultura menyebutkan bahwa produktivitas kebun apel menurun akibat faktor usia tanaman, perubahan iklim, serta alih fungsi lahan.

Menurut kajian dari Kementerian Pertanian dan beberapa jurnal agribisnis, fluktuasi hasil panen apel berdampak langsung pada industri hilirnya, termasuk usaha pengolahan seperti keripik apel.

Analogi sederhananya seperti ini: usaha keripik apel itu ibarat kedai kopi. Kalau pasokan biji kopi berkualitas makin sulit dan mahal, mau tidak mau harga dan kualitas produk ikut terdampak.

Bagi produsen kecil, kenaikan harga apel sering kali tidak bisa langsung diikuti dengan kenaikan harga jual keripik karena pasar oleh-oleh sangat sensitif terhadap harga.

BACA JUGA :

Biaya Produksi yang Terus Naik

Selain bahan baku, biaya produksi menjadi kendala besar lainnya. Proses pembuatan keripik apel umumnya menggunakan teknologi penggorengan khusus seperti vacuum frying agar warna dan rasa tetap terjaga. Masalahnya, mesin ini membutuhkan biaya investasi, perawatan, dan konsumsi energi yang tidak sedikit.

Dalam beberapa publikasi di Journal of Food Engineering, disebutkan bahwa efisiensi energi dan teknologi sangat menentukan keberlanjutan usaha pengolahan pangan skala kecil.

Ketika harga listrik, gas, atau bahan bakar naik, margin keuntungan produsen keripik apel ikut tergerus. Banyak pelaku usaha akhirnya berada di posisi serba salah: produksi jalan, tapi keuntungan nyaris tidak terasa.

Tantangan Konsistensi Kualitas Produk

Keripik apel bukan sekadar apel yang digoreng. Kandungan air dan gula alami pada apel membuat proses pengolahan harus presisi. Jika tidak, produk bisa mudah melempem, berubah rasa, atau kehilangan kerenyahan sebelum sampai ke tangan konsumen.

Organisasi Pangan Dunia (FAO) dalam panduan pengolahan buah menyebutkan bahwa produk berbasis buah memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas mutu dan umur simpan.

Banyak produsen skala kecil kesulitan menjaga konsistensi ini, terutama ketika produksi dilakukan manual atau dengan peralatan yang sudah menua. Konsumen yang sekali kecewa sering kali enggan membeli ulang.

Persaingan Oleh-Oleh yang Semakin Ketat

Jika dulu keripik apel hampir tak tergantikan sebagai oleh-oleh khas Batu, kini kondisinya berbeda. Pasar dipenuhi oleh berbagai produk baru: keripik buah lain, olahan susu, dessert kekinian, hingga snack modern dengan kemasan menarik dan branding kuat.

Perubahan perilaku konsumen juga berpengaruh besar. Konsumen saat ini tidak hanya membeli rasa, tetapi juga tampilan, cerita produk, dan nilai tambah lainnya.

Dalam kajian pemasaran UMKM, disebutkan bahwa produk yang tidak berinovasi dalam kemasan dan komunikasi merek cenderung kalah bersaing, meskipun kualitas rasanya baik.

Keripik apel yang tampil “itu-itu saja” pelan-pelan tersisih tanpa disadari.

Kendala Regulasi dan Standar Pangan

Seiring meningkatnya kesadaran keamanan pangan, standar produksi makanan juga semakin ketat. Perizinan, sertifikasi, dan standar kebersihan menjadi keharusan, terutama jika ingin menembus pasar yang lebih luas.

Bagi sebagian produsen kecil, proses ini terasa rumit dan memakan biaya. Tidak sedikit yang akhirnya memilih berhenti karena merasa tidak mampu mengikuti tuntutan regulasi yang semakin tinggi.

Padahal, tujuan regulasi ini sebenarnya untuk melindungi konsumen dan produsen itu sendiri.

Kurangnya Regenerasi Pelaku Usaha

Kendala lain yang sering luput dibahas adalah regenerasi. Banyak produsen keripik apel merupakan generasi lama yang merintis usaha sejak awal perkembangan industri oleh-oleh Batu. Ketika usia bertambah, tidak selalu ada penerus yang mau melanjutkan.

Menurut penelitian tentang UMKM keluarga, usaha yang tidak mengalami modernisasi model bisnis cenderung sulit diwariskan ke generasi berikutnya.

Anak muda Batu mungkin bangga dengan identitas Kota Apel, tetapi tidak selalu tertarik menjalani usaha dengan proses berat dan keuntungan yang tidak menentu.

Tanda-Tanda Usaha Keripik Apel Sedang Mengalami Tekanan

Jika Anda pelaku usaha atau pengamat industri lokal, beberapa tanda berikut patut diperhatikan:

Produksi yang semakin jarang atau tidak rutin
Kesulitan mendapatkan apel dengan harga stabil
Penjualan stagnan meski musim wisata ramai
Banyak merek lama menghilang dari etalase toko oleh-oleh

Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bersifat struktural, bukan sekadar masalah musiman.

Studi Kasus Singkat: Bertahan dengan Berubah

Di tengah banyaknya produsen yang berhenti, ada juga yang mampu bertahan. Salah satu kuncinya adalah adaptasi. Beberapa produsen mulai mengurangi ketergantungan pada keripik apel murni dengan mengembangkan varian rasa, produk turunan, atau menggabungkan usaha dengan wisata edukasi.

Dalam laporan pengembangan UMKM daerah, disebutkan bahwa pelaku usaha yang berani mengubah cara produksi dan pemasaran cenderung lebih resilien menghadapi perubahan pasar.

Yang berubah bukan identitas apelnya, tetapi cara menjual dan mengolah nilainya.

Perbandingan Kondisi Dulu dan Sekarang

AspekDuluSekarang
Pasokan apelStabil & melimpahFluktuatif
Biaya produksiRelatif rendahCenderung meningkat
PersainganTerbatasSangat beragam
TeknologiSederhanaDituntut efisien
RegenerasiMasih berjalanMulai terhambat

Humor Ringan: Apelnya Tetap Merah, Tantangannya Ikut Memerah

Apel di Batu masih tumbuh dan berbuah. Yang berubah adalah tantangannya yang makin “matang”. Kalau dulu cukup mengandalkan rasa, sekarang produsen juga harus pintar membaca pasar, mengatur biaya, dan menjaga kualitas secara konsisten.

Bisa dibilang, keripik apel sekarang butuh strategi, bukan hanya resep.

Kesimpulan: Berkurang Karena Tantangan, Bukan Karena Kehilangan Potensi

Berkurangnya produsen keripik apel di Kota Batu bukan karena produk ini kehilangan daya tarik, melainkan karena banyak kendala yang datang bersamaan. Dari bahan baku, biaya produksi, persaingan pasar, hingga regenerasi pelaku usaha, semuanya saling terkait.

Keripik apel tetap memiliki potensi besar sebagai identitas lokal dan produk bernilai ekonomi. Namun keberlanjutannya sangat bergantung pada kemampuan produsen untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Home Shop Cart Account
Shopping Cart (0)

No products in the cart. No products in the cart.