INAGI – Kalau kamu pernah liburan ke Kota Batu, pasti tahu dong kalau oleh-oleh khasnya adalah keripik buah. Dari keripik apel, nangka, salak, hingga jambu, semuanya menggoda untuk dibawa pulang. Tapi, pernahkah kamu mengalami hal ini: sudah beli keripik buah dengan harga lumayan, tapi sampai rumah bungkusnya kempis, udara masuk, dan keripiknya jadi melempem?
Nah, masalah ini ternyata bukan cuma dialami pembeli, tapi juga jadi PR besar bagi para pelaku UMKM di Batu. Bungkus keripik buah yang seharusnya rapat dan melindungi produk, justru sering tidak kedap udara. Akibatnya, kualitas produk menurun, konsumen kecewa, dan citra merek bisa turun.
Lalu, apa sebenarnya penyebab utama bungkus keripik buah di Kota Batu sering tidak kedap udara? Yuk, kita bahas bareng-bareng.
Kedap Udara Itu Penting, Loh!
Secara ilmiah, keripik buah masuk dalam kategori low moisture food (makanan dengan kadar air rendah). Menurut Journal of Food Science and Technology (2019), produk seperti keripik sangat rentan terhadap oksidasi (reaksi dengan oksigen) dan reabsorpsi kelembapan. Kalau kemasan tidak rapat, udara masuk, dan jadilah keripik melempem.
Analogi gampangnya begini: bayangkan kamu punya payung lipat yang tidak dimasukkan ke sarungnya. Hasilnya? Debu dan kotoran mudah menempel. Sama halnya dengan keripik buah: kalau bungkus tidak benar-benar kedap, udara dan uap air bebas masuk, dan produk pun cepat rusak.
BACA JUGA :
Penyebab Utama Bungkus Keripik Buah Tidak Kedap Udara

1. Kualitas Bahan Kemasan yang Rendah
Banyak UMKM masih menggunakan plastik tipis atau jenis plastik yang tidak food grade. Plastik seperti ini gampang sobek, tidak tahan tekanan, dan pori-porinya memungkinkan udara masuk.
2. Teknik Penutupan yang Kurang Tepat
Sering kali penutupan kemasan masih manual, menggunakan lilin atau alat sederhana seperti staples. Masalahnya, cara ini tidak menghasilkan segel yang rapat.
3. Tidak Menggunakan Mesin Vacuum Sealer
Vacuum sealer berfungsi menyedot udara sebelum kemasan ditutup rapat. Tanpa alat ini, udara akan tetap “terjebak” di dalam bungkus, membuat keripik lebih cepat melempem.
4. Faktor Kelembapan Lingkungan
Kota Batu punya iklim sejuk dan lembap. Menurut data BMKG, rata-rata kelembapan di Batu mencapai 80%. Kondisi ini memperbesar risiko kemasan menyerap uap air dari luar jika tidak dilapisi material penghalang (barrier) yang kuat.
5. Kesalahan dalam Proses Pengisian
Pengisian keripik ke dalam bungkus sering dilakukan terburu-buru, tanpa memperhatikan sisa udara di dalam kemasan. Akibatnya, udara ikut terperangkap, meski sudah disegel.
Rujukan & Fakta Kredibel
- Kementerian Perindustrian (2022) menyebutkan bahwa 60% masalah produk pangan UMKM ada pada kemasan, khususnya di segel dan kualitas bahan.
- FAO (Food and Agriculture Organization) menegaskan bahwa pengemasan kedap udara dapat memperpanjang umur simpan produk hingga 3 kali lipat.
- Penelitian Universitas Brawijaya (2019) pada keripik apel Batu menemukan bahwa kemasan vakum mampu menjaga kerenyahan hingga 6 bulan, sementara kemasan biasa hanya bertahan 1–2 bulan.
Apakah Kemasan Usahamu Kedap Udara?
Coba jawab jujur pertanyaan ini untuk mengevaluasi kondisi usaha:
- Apakah plastik yang dipakai sering sobek atau tipis?
- Apakah masih menggunakan staples atau lilin untuk menutup kemasan?
- Apakah produkmu cepat melempem dalam waktu kurang dari sebulan?
- Apakah pelanggan pernah komplain karena kemasan kempis atau bocor?
- Apakah kamu belum menggunakan vacuum sealer?
- Apakah lingkungan produksi cenderung lembap tanpa pengaturan suhu?
Kalau lebih dari tiga poin kamu centang, berarti kemasanmu belum benar-benar kedap udara.
Studi Kasus Singkat: “Keripik Nangka Pak Joko”
Pak Joko, salah satu pelaku UMKM keripik nangka di Batu, awalnya menggunakan plastik bening dan staples sebagai pengemas. Awalnya laris di pasar lokal, tapi banyak komplain masuk: keripik cepat melempem, bahkan sebelum sampai ke tangan pembeli di luar kota.
Akhirnya, Pak Joko memberanikan diri membeli mesin vacuum sealer seharga 3 juta rupiah. Selain itu, ia mengganti plastik biasa dengan standing pouch berbahan alumunium foil. Hasilnya?
- Produk lebih tahan lama hingga 5 bulan.
- Tampilannya lebih profesional, cocok untuk toko oleh-oleh.
- Penjualan naik 70% dalam waktu 8 bulan.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa investasi di kemasan bukanlah biaya, tapi aset.
Tabel Perbandingan: Kemasan Tidak Vakum vs Kemasan Vakum
| Aspek | Kemasan Biasa (Non-Vakum) | Kemasan Vakum (Kedap Udara) |
|---|---|---|
| Umur Simpan Produk | 1–2 bulan | 4–6 bulan |
| Tingkat Kerenyahan | Cepat hilang | Terjaga lebih lama |
| Tampilan Visual | Sederhana | Lebih profesional & premium |
| Biaya Awal | Lebih murah | Lebih mahal, tapi efisien |
| Kepuasan Konsumen | Rendah | Tinggi |
“Keripik Bukan Angin-Anginan”
Kadang ada yang bilang, “Ah, yang penting keripiknya enak, bungkus belakangan.” Nah, jangan salah. Keripik itu bukan orang yang angin-anginan—hari ini renyah, besok lembek. Kalau kemasan tidak kedap, konsumen bisa langsung ilfeel meskipun rasanya enak.
Kedap Udara Itu Kunci
Dari pembahasan ini, kita bisa simpulkan bahwa penyebab utama bungkus keripik buah di Kota Batu sering tidak kedap udara adalah kombinasi dari:
- Bahan kemasan yang kurang berkualitas,
- Teknik penutupan yang belum tepat,
- Minimnya penggunaan vacuum sealer,
- Faktor lingkungan yang lembap,
- Serta kurang telitinya proses pengemasan.
Padahal, bungkus bukan hanya “pakaian” produk, tapi juga penjaga kualitas dan wajah merek. Investasi pada kemasan yang benar bisa jadi kunci bagi UMKM di Batu untuk menembus pasar yang lebih luas, bahkan internasional.


