INAGI – Di awal merintis bisnis bakso ikan tuna, banyak pelaku UMKM merasa sudah melakukan segalanya dengan benar. Ikan tuna segar sudah dipilih, bumbu pas, adonan terasa kenyal saat dicoba. Tapi begitu masuk ke proses cetak, hasilnya justru bikin geleng-geleng kepala.
Bakso tidak bulat sempurna, ukurannya beda-beda, teksturnya mudah pecah, bahkan ada yang berubah bentuk saat direbus. Rasanya campur aduk antara bingung, capek, dan sedikit kesal. Apalagi kalau ini terjadi di jam produksi ramai.
Kalau kamu pernah berada di fase ini, tarik napas dulu. Masalah cetak bakso ikan tuna adalah hal yang sangat umum, terutama di skala UMKM. Dan kabar baiknya, sebagian besar masalah ini bisa dijelaskan secara ilmiah dan diperbaiki secara praktis.
Mengapa Masalah Cetak Sering Terjadi pada Bakso Ikan Tuna
Bakso ikan tuna berbeda dengan bakso daging sapi. Kandungan protein, kadar air, dan struktur seratnya membuat proses pencetakan jadi lebih “sensitif”.
Menurut Journal of Food Science and Nutrition, protein ikan memiliki daya ikat yang lebih rendah dibanding protein daging merah jika tidak diproses dengan teknik yang tepat. Artinya, sedikit kesalahan di proses awal bisa berdampak besar di hasil akhir.
Analogi sederhananya begini:
Adonan bakso itu seperti adonan roti. Kalau takarannya meleset sedikit saja, hasilnya bisa bantat, lembek, atau pecah—padahal bahannya sama.
BACA JUGA :
Masalah Cetak Bakso Ikan Tuna yang Paling Sering Dialami UMKM
1. Bakso Sulit Dibentuk dan Tidak Bulat Sempurna
Masalah klasik ini sering muncul di awal usaha. Bakso terlihat lonjong, bergerigi, atau permukaannya kasar.
Penyebab ilmiah ringkasnya:
- Rasio protein dan air tidak seimbang
- Pengadukan kurang homogen
- Suhu adonan terlalu hangat
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), protein ikan tuna membutuhkan kondisi suhu dingin agar struktur gel-nya terbentuk dengan baik.
Tanda-tanda yang bisa kamu cek:
- Adonan terasa lengket berlebihan
- Sulit dilepas dari tangan atau alat cetak
- Permukaan bakso tidak halus
2. Ukuran Bakso Tidak Konsisten

Hari ini besar, besok kecil. Padahal rasanya sama.
Masalah ini sering dianggap sepele, tapi dampaknya besar pada kepercayaan konsumen. Pembeli UMKM sebenarnya tidak menuntut sempurna, tapi mereka sangat peka terhadap ketidakkonsistenan.
Penyebab umum:
- Cetak manual tanpa standar takaran
- Adonan terlalu cepat mengering
- Tidak ada patokan berat per butir
Sedikit humor tapi nyata:
Bakso yang ukurannya beda-beda itu seperti sandal jepit kiri-kanan beda ukuran—masih bisa dipakai, tapi rasanya “nggak niat”.
3. Bakso Pecah atau Retak Saat Direbus
Ini salah satu masalah yang paling bikin frustrasi, apalagi kalau sudah produksi banyak.
Menurut jurnal Food Hydrocolloids, struktur bakso ikan sangat dipengaruhi oleh:
- Kadar pati
- Kekuatan ikatan protein
- Perubahan suhu mendadak
Kesalahan yang sering terjadi:
- Air rebusan terlalu panas sejak awal
- Bakso langsung dimasukkan ke air mendidih
- Adonan belum cukup “set”
4. Tekstur Bakso Lembek atau Terlalu Kenyal
Konsumen bakso punya ekspektasi tekstur tertentu. Terlalu lembek dianggap kurang matang, terlalu kenyal dianggap “aneh”.
Ini biasanya bukan salah satu faktor tunggal, tapi kombinasi:
- Jenis tepung yang digunakan
- Lama pengadukan
- Waktu dan suhu perebusan
Menurut pakar teknologi pangan dari IPB University, tekstur bakso ideal tercapai ketika protein dan pati membentuk struktur seimbang—bukan saling mendominasi.
Tanda-Tanda Produksi Bakso Tuna Kamu Perlu Dievaluasi
Coba evaluasi kondisi usahamu dengan jujur:
- Bakso sering berubah bentuk setelah dicetak
- Banyak produk gagal saat perebusan
- Konsumen mengeluh tekstur tidak konsisten
- Produksi terasa melelahkan tapi hasil tidak maksimal
Kalau kamu mengalami lebih dari dua poin di atas, besar kemungkinan masalahnya ada di proses cetak, bukan di resep.
Perbandingan Masalah Cetak Manual vs Proses Lebih Terstandar
| Aspek | Cetak Manual Asal | Proses Lebih Terkontrol |
|---|---|---|
| Bentuk bakso | Tidak seragam | Lebih rapi |
| Waktu produksi | Lama & melelahkan | Lebih efisien |
| Tingkat gagal | Tinggi | Lebih rendah |
| Konsistensi produk | Sulit dijaga | Lebih stabil |
Tabel ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membantu kamu melihat bahwa masalah cetak bukan soal kemampuan, tapi sistem.
UMKM Bakso Tuna Rumahan yang Hampir Menyerah
Sebuah UMKM bakso ikan tuna rumahan di Jawa Tengah sempat mengalami tingkat produk gagal hingga 25%. Bakso sering pecah dan bentuknya tidak konsisten.
Awalnya pemilik usaha mengira masalah ada di resep. Setelah berkonsultasi dengan pendamping UMKM pangan, ditemukan bahwa:
- Adonan terlalu hangat saat dicetak
- Takaran tiap bakso tidak seragam
- Proses perebusan terlalu agresif
Setelah memperbaiki alur produksi dan memperhatikan proses cetak, tingkat kegagalan turun drastis hingga di bawah 5%. Produksi lebih tenang, tenaga lebih hemat, dan kepercayaan diri pelaku usaha pun kembali.
Mengapa Masalah Cetak Tidak Boleh Diabaikan Sejak Awal
Masalah cetak yang dibiarkan akan berdampak panjang:
- Biaya produksi membengkak
- Waktu terbuang
- Mental pelaku UMKM terkuras
Menurut Kementerian Koperasi dan UKM, banyak usaha pangan skala kecil berhenti bukan karena tidak laku, tetapi karena proses produksi terlalu melelahkan dan tidak efisien.
Dan jujur saja, bisnis seharusnya memang menantang, tapi tidak perlu menyiksa.
Masalah Cetak Itu Wajar, Tapi Harus Disadari
Memulai bisnis bakso ikan tuna skala UMKM memang penuh tantangan, terutama di tahap cetak. Tapi masalah ini bukan tanda kamu tidak berbakat, melainkan tanda bahwa bisnismu sedang bertumbuh dan butuh sistem yang lebih baik.
Kalau hari ini bakso kamu belum sempurna bentuknya, itu tidak apa-apa. Yang penting, kamu mau memahami penyebabnya dan pelan-pelan memperbaikinya.
Ingat, hampir semua UMKM yang sukses pernah melewati fase dapur berantakan dan produksi gagal. Bedanya, mereka tidak berhenti di situ.
Kalau kamu sedang berada di fase ini, kamu sedang belajar. Dan dalam dunia usaha, itu sudah satu langkah lebih maju.


