INAGI – Banyak pelaku UMKM memulai bisnis bakso ikan tuna dengan satu modal utama: resep yang enak. Ikan tuna segar, tekstur kenyal, rasa gurih alami—semuanya sudah ada. Tapi setelah beberapa bulan berjalan, muncul pertanyaan di kepala (yang sering kali tidak terucap): kok penjualan segini-gini saja ya?
Kalau kamu sedang berada di fase itu, tenang. Kamu tidak sendirian.
Faktanya, menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, sebagian besar UMKM kuliner tidak berhenti karena produknya buruk, tetapi karena kurang perencanaan, konsistensi, dan pemahaman pasar.
Artikel ini akan mengajak kamu melihat bisnis bakso ikan tuna bukan hanya dari dapur, tapi juga dari sisi strategi. Kita bahas pelan-pelan, ringan, dengan analogi sehari-hari—karena bisnis itu bukan soal teori rumit, tapi soal keputusan kecil yang konsisten.
Mengapa Bakso Ikan Tuna Punya Potensi Besar untuk UMKM
Bakso ikan tuna bukan sekadar variasi dari bakso sapi. Ia punya nilai jual unik, terutama di tengah tren makanan sehat dan protein laut.
Secara ilmiah, ikan tuna dikenal kaya akan:
- Protein tinggi
- Omega-3
- Rendah lemak jenuh
Menurut publikasi FAO (Food and Agriculture Organization), konsumsi ikan laut berprotein tinggi berkontribusi pada pola makan berkelanjutan dan kesehatan jangka panjang. Dalam bahasa sederhananya: bakso tuna bukan cuma enak, tapi juga “punya cerita”.
Dan di dunia UMKM, cerita produk sering kali sama pentingnya dengan rasanya.
BACA JUGA :
Kiat Sukses Memulai Bisnis Bakso Ikan Tuna Skala UMKM
1. Mulai dari Masalah Konsumen, Bukan dari Resep
Kesalahan umum UMKM pemula adalah jatuh cinta berlebihan pada produknya sendiri. Padahal, yang paling penting adalah masalah apa yang ingin kamu bantu selesaikan.
Contoh masalah konsumen:
- Anak susah makan ikan
- Bosan bakso daging
- Ingin camilan tinggi protein tapi terjangkau
Kalau bakso tuna kamu diposisikan sebagai “bakso sehat untuk keluarga”, maka semua keputusan—dari ukuran, kemasan, hingga harga—akan mengikuti arah itu.
Analogi sederhananya:
Resep itu seperti mesin, tapi masalah konsumen adalah setirnya. Mesin bagus tanpa setir? Bisa jalan, tapi tidak tahu ke mana.
2. Pastikan Kualitas Bahan Baku Konsisten
Ikan tuna adalah bahan sensitif. Sedikit saja salah penanganan, aroma dan tekstur bisa berubah.
Menurut jurnal Journal of Food Quality, kualitas produk olahan ikan sangat dipengaruhi oleh:
- Kesegaran bahan baku
- Suhu penyimpanan
- Waktu pengolahan
Tanda-tanda kualitas bahan baku mulai bermasalah:
- Bau amis lebih tajam dari biasanya
- Warna adonan kusam
- Tekstur bakso mudah hancur
Jika kamu mulai melihat tanda ini, jangan buru-buru menyalahkan resep. Bisa jadi masalahnya ada di rantai pasok ikan tuna.
3. Skala UMKM Bukan Alasan Produksi Asal-asalan
Banyak yang berpikir, “Namanya juga UMKM, yang penting jalan dulu.”
Padahal justru di skala kecil inilah standar harus dibangun sejak awal.
Bayangkan bisnis seperti menanam pohon. Kalau batangnya sudah miring sejak kecil, nanti akan sulit diluruskan.
Hal sederhana tapi krusial:
- Takaran adonan ditimbang, bukan kira-kira
- Waktu perebusan konsisten
- Proses pendinginan jelas
Ini bukan soal ribet, tapi soal mudah dikembangkan nanti.
4. Harga Harus Masuk Akal, Bukan Sekadar Murah
Menjual murah sering dianggap strategi aman. Padahal, menurut riset dari Harvard Business Review, UMKM yang terlalu menekan harga justru lebih rentan gagal karena margin tidak sehat.
Perhatikan perbandingan sederhana berikut:
| Komponen | Strategi Murah | Strategi Sehat |
|---|---|---|
| Harga jual | Rendah | Wajar & kompetitif |
| Margin | Tipis | Stabil |
| Daya tahan usaha | Rentan | Lebih panjang |
| Persepsi kualitas | Biasa saja | Lebih terpercaya |
Harga yang wajar memberi ruang untuk:
- Perbaikan kualitas
- Promosi
- Inovasi produk
Dan konsumen saat ini lebih cerdas—mereka tidak selalu mencari yang termurah, tapi yang pantas.
5. Kemasan dan Cerita Produk Itu Investasi
Bakso ikan tuna yang enak tapi dikemas seadanya ibarat hadiah bagus dibungkus koran. Isinya mungkin hebat, tapi kesan pertamanya hilang.
Menurut Nielsen Consumer Insight, kemasan memengaruhi keputusan beli pertama hingga 30–40%.
Tidak harus mahal:
- Plastik tebal dan rapi
- Label jelas (nama, komposisi, tanggal)
- Cerita singkat tentang keunggulan bakso tuna
Sedikit humor boleh:
Bakso kamu mungkin tidak bisa bicara, tapi kemasannya bisa “ngobrol” dengan calon pembeli.
Tanda-Tanda Bisnis Bakso Tuna Kamu Perlu Evaluasi
Coba cek kondisi usahamu dengan jujur:
- Penjualan stagnan lebih dari 3 bulan
- Pelanggan beli sekali, jarang repeat order
- Komplain rasa tidak konsisten
- Sulit menaikkan harga meski biaya naik
Kalau kamu mengangguk di lebih dari dua poin, itu bukan kegagalan—itu alarm perbaikan.
UMKM Bakso Tuna di Pesisir Jawa Timur
Sebuah UMKM bakso tuna rumahan di wilayah pesisir Jawa Timur memulai usaha hanya dengan menjual bakso matang di pasar lokal. Awalnya laris, lalu menurun.
Setelah evaluasi, mereka menemukan masalah utama:
- Ukuran bakso tidak konsisten
- Cerita produk tidak jelas
- Kemasan kurang menarik
Solusi yang dilakukan:
- Standarisasi takaran
- Menyasar segmen “bekal anak & keluarga”
- Mengganti kemasan frozen sederhana
Dalam 6 bulan, penjualan naik stabil dan mulai masuk ke toko oleh-oleh lokal. Tidak viral, tapi bertumbuh sehat—dan itu yang penting.
Bisnis Bakso Tuna Bukan Soal Cepat, Tapi Tepat
Memulai bisnis bakso ikan tuna skala UMKM bukan lomba lari cepat, melainkan maraton santai tapi konsisten. Fokus pada kualitas, pahami konsumen, dan bangun sistem sejak awal.
Kalau hari ini usahamu masih kecil, itu wajar. Yang tidak wajar adalah berhenti belajar dan enggan evaluasi.
Bakso tuna kamu punya potensi besar. Tinggal bagaimana kamu mengelolanya dengan lebih sadar dan strategis. Dan siapa tahu, dari dapur kecil hari ini, lahir merek besar esok hari.
Kalau kamu sudah sejauh ini membaca, berarti kamu serius. Dan bisnis yang dikelola dengan serius—peluang berhasilnya selalu lebih besar.


