INAGI – Pernahkah Anda membeli keripik singkong atau kue kering dari UMKM lokal, lalu mendapati bungkusnya sobek, isi cepat melempem, atau labelnya pudar? Rasanya sayang sekali, bukan? Padahal rasa produknya enak, tapi kemasannya membuat nilai jualnya turun.
Nah, inilah masalah klasik yang kerap dialami oleh banyak pelaku UMKM makanan ringan. Mereka sudah jago bikin produk yang gurih dan manis, tapi ketika sampai di tahap pengemasan, sering kali “tersandung.”
Kalau Anda pelaku UMKM, mungkin sudah sering bertanya dalam hati: “Kenapa kemasan produk saya nggak bisa awet atau terlihat profesional seperti produk brand besar?”
Mari kita bedah bersama kendala-kendala pengemasan yang sering dialami UMKM, lengkap dengan solusi praktis dan contoh nyata.
Mengapa Kemasan Penting untuk UMKM Makanan Ringan?
Kemasan bukan sekadar pembungkus. Ia adalah “baju resmi” produk Anda. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), kemasan makanan berfungsi melindungi, memperpanjang umur simpan, serta menjadi alat komunikasi utama dengan konsumen.
Bayangkan Anda menghadiri acara resmi dengan pakaian seadanya—pasti orang akan salah menilai, bukan? Begitu juga dengan produk UMKM. Tanpa kemasan yang layak, produk bisa dianggap “murahan,” meskipun rasanya juara.
BACA JUGA :
Kendala yang Sering Dihadapi UMKM dalam Pengemasan

1. Biaya Produksi Kemasan yang Tinggi
Banyak UMKM mengeluhkan harga kemasan yang terlihat sepele, tapi sebenarnya bisa “makan” margin keuntungan.
- Plastik food grade, alumunium foil, atau kemasan vakum tidaklah murah.
- Desain kemasan dengan cetak warna penuh juga menambah biaya.
💡 Analogi sederhana: Kemasan itu seperti helm motor. Helm standar memang cukup untuk melindungi, tapi helm berkualitas lebih baik memberikan rasa aman dan tampilan keren. Bedanya, UMKM sering bingung: “Apakah perlu helm racing, atau cukup helm biasa?”
2. Kurangnya Pengetahuan tentang Material Kemasan
Tidak semua plastik cocok untuk makanan. Misalnya, plastik OPP bagus untuk tampilan bening, tapi kurang rapat untuk menjaga kerenyahan keripik. Sebaliknya, alumunium foil lebih rapat, tapi biaya tinggi.
Menurut Jurnal Teknologi Pangan Indonesia (2021), pemilihan bahan kemasan yang salah dapat mempercepat kerusakan makanan hingga 30%.
3. Desain Kurang Menarik atau Terlalu Rumit
UMKM sering menghadapi dilema: ingin kemasan yang menarik, tapi budget terbatas. Akibatnya, banyak yang memilih desain seadanya.
- Ada yang hanya menempelkan stiker hitam putih.
- Ada juga yang mencetak desain ramai tapi kurang terbaca.
Padahal, menurut pakar branding Marty Neumeier, desain yang efektif itu sederhana tapi berkesan.
4. Keterbatasan Alat dan Teknologi
Banyak UMKM masih mengandalkan:
- Sealer manual (yang kadang bocor).
- Timbangan manual (yang kurang presisi).
- Label printer seadanya.
Akibatnya, produk cepat melempem atau label mudah lepas.
5. Tidak Memahami Regulasi dan Labelisasi
Menurut BPOM, setiap produk makanan yang dijual secara luas wajib mencantumkan:
- Nama produk
- Daftar bahan
- Berat bersih
- Tanggal kedaluwarsa
- Informasi produsen
Sayangnya, banyak UMKM belum konsisten menempelkan informasi ini. Ada yang lupa mencantumkan tanggal kedaluwarsa, ada pula yang menulis dengan spidol. Hal ini bisa menurunkan kepercayaan konsumen.
6. Distribusi dan Penyimpanan yang Tidak Mendukung
Kadang masalah bukan di kemasan, tapi di cara penyimpanan dan distribusi. Misalnya:
- Keripik yang dikemas rapat tapi diletakkan di tempat panas → jadi melempem.
- Biskuit yang disimpan di kardus lembap → kemasan bisa berjamur.
Tanda-Tanda Kemasan Produk Anda Bermasalah
Bagaimana cara tahu kalau kemasan Anda termasuk “bermasalah”? Coba cek:
- Produk cepat melempem meski baru 3 hari.
- Label cepat luntur atau lepas.
- Konsumen sering bertanya ulang tentang isi/komposisi.
- Kemasan terlihat kusam atau mudah sobek.
- Biaya kemasan terasa lebih tinggi daripada keuntungan bersih.
Kalau salah satu atau lebih tanda ini Anda alami, mungkin sudah saatnya mengevaluasi strategi pengemasan Anda.
Bisnis Makanan Ringan Keripik Singkong Bu Sari
Bu Sari adalah pelaku UMKM di Malang yang menjual keripik singkong. Awalnya, beliau hanya menggunakan plastik bening biasa dengan stiker kecil. Kendalanya:
- Produk cepat melempem dalam 1 minggu.
- Konsumen sering salah menilai sebagai “snack rumahan” biasa.
Setelah mengganti dengan kemasan alumunium foil ziplock + label warna, hasilnya berbeda jauh:
- Umur simpan jadi 1 bulan.
- Penjualan meningkat 2 kali lipat karena kemasan terlihat lebih profesional.
- Produk mulai masuk ke toko oleh-oleh lokal.
Ini menunjukkan bahwa investasi kecil di kemasan bisa mendatangkan keuntungan besar.
Tabel Perbandingan Jenis Kemasan UMKM Makanan Ringan
| Jenis Kemasan | Kelebihan | Kekurangan | Cocok untuk Produk |
|---|---|---|---|
| Plastik OPP | Bening, murah, ringan | Tidak tahan udara/kelembapan | Keripik, snack kering |
| Alumunium Foil | Tahan udara, memperpanjang umur simpan | Lebih mahal | Keripik, biskuit, kopi bubuk |
| Vakum Sealer | Mengurangi oksigen, segel rapat | Butuh mesin khusus, biaya tambahan | Daging olahan, keripik premium |
| Standing Pouch Ziplock | Praktis, bisa dibuka-tutup | Harga lebih tinggi | Kacang, keripik premium |
| Kertas Kraft + Lapis | Ramah lingkungan, estetis | Tidak tahan lama tanpa lapisan plastik | Roti kering, cookies |
Jadi, Apa Solusinya untuk UMKM?
- Mulai dari yang sederhana tapi berkualitas. Tidak perlu langsung mahal, pilih bahan kemasan yang sesuai produk.
- Konsultasi dengan ahli kemasan. Banyak penyedia kemasan yang bersedia memberikan saran gratis.
- Manfaatkan teknologi sederhana. Mesin sealer modern sudah banyak yang harganya terjangkau untuk UMKM.
- Ikuti regulasi BPOM. Pastikan label jelas, agar konsumen merasa aman.
- Tes pasar secara bertahap. Coba ganti sebagian kemasan, lalu lihat respon konsumen.
Kemasan Bukan Beban, Tapi Investasi
Kendala pengemasan memang sering jadi momok bagi UMKM makanan ringan. Tapi ingat, kemasan adalah wajah pertama produk Anda.
Kalau isi makanan adalah “jiwa,” maka kemasan adalah “baju” yang membuat konsumen jatuh hati. Jangan sampai makanan Anda yang lezat kalah pamor hanya karena bungkusnya terlihat asal-asalan.
Jadi, yuk mulai evaluasi kemasan produk Anda dari sekarang. Jangan tunggu sampai konsumen kabur hanya karena bungkusnya kurang menarik.
Ingin kemasan UMKM yang lebih awet, menarik, dan sesuai regulasi? Hubungi kami sekarang untuk konsultasi gratis dan temukan solusi terbaik untuk bisnis Anda.


