INAGI – Coba bayangkan… Kamu punya resep sambal yang enak banget—teman-teman selalu bilang, “Ini kalau dijual pasti laku!” Lalu muncul ide: Kenapa nggak dibikin versi kalengan biar tahan lama dan bisa dijual ke luar kota?
Kedengarannya simpel, bukan? Tinggal masak, masukin kaleng, jual. Tapi… di dunia nyata, memulai bisnis makanan kaleng itu mirip seperti mengendarai sepeda di jalanan kota besar: kelihatannya lurus, tapi ada banyak rintangan yang harus dihindari.
Di era sekarang, permintaan akan makanan siap saji dan tahan lama memang naik pesat. Data dari World Packaging Organisation (2023) menunjukkan, tren makanan kaleng global tumbuh sekitar 4,2% per tahun, terutama karena gaya hidup serba cepat. Tapi di balik peluang itu, ada tantangan yang sering membuat pelaku usaha baru kaget.
Mari kita kupas pelan-pelan, supaya kalau nanti kamu mau memulai, nggak terjebak di “lubang” yang sama.
Tantangan Utama Memulai Bisnis Makanan Kaleng
1. Standar Keamanan Pangan yang Super Ketat
Makanan kaleng bukan cuma soal rasa enak, tapi juga soal aman dikonsumsi. Bakteri seperti Clostridium botulinum bisa berkembang jika proses sterilisasi tidak tepat.
“Kesalahan kecil pada proses pengalengan bisa berakibat fatal bagi konsumen dan reputasi bisnis,” — BPOM RI, Pedoman Produksi Pangan 2022.
🔍 Analoginya: Ini seperti bikin teh panas. Kalau airnya kurang mendidih, tehnya nggak akan keluar rasa maksimalnya. Dalam pengalengan, kalau suhu dan tekanan sterilisasi tidak sesuai standar, maka mikroba berbahaya masih bisa bertahan.
2. Investasi Awal yang Tidak Kecil
Mesin retort sterilizer, seamer, hingga alat pengukur tekanan dan suhu bukanlah barang murah. Untuk skala UMKM, modal awal bisa berkisar Rp50 juta–Rp200 juta tergantung kapasitas.
Checklist Singkat — Apakah kamu siap modal?
- Punya dana untuk beli peralatan utama (sterilizer, seamer)
- Biaya bahan baku dan kemasan
- Biaya uji laboratorium dan izin edar
- Dana cadangan minimal 3 bulan operasional
3. Persaingan Pasar yang Semakin Ketat
Banyak brand besar sudah punya jalur distribusi dan branding yang kuat. Sementara pemain baru harus berjuang ekstra untuk dikenal. Tantangannya bukan hanya menjual produk, tapi juga membangun kepercayaan.
📌 Tips: Carilah unique selling point (USP) seperti “rendang kaleng rendah minyak” atau “sayur kaleng organik tanpa pengawet” untuk membedakan produkmu.
4. Distribusi & Logistik
Makanan kaleng memang tahan lama, tapi berat dan volumenya cukup besar. Biaya pengiriman bisa menggerus margin jika tidak dihitung sejak awal.
Tabel Perbandingan: Biaya Kirim Makanan Kaleng vs Makanan Ringan
| Jenis Produk | Berat per Karton (isi 24) | Estimasi Ongkir Jakarta–Surabaya | Masa Simpan |
|---|---|---|---|
| Makanan kaleng | ±9–12 kg | Rp120.000–Rp150.000 | 1–3 tahun |
| Snack ringan | ±3–4 kg | Rp60.000–Rp80.000 | 6–12 bulan |
5. Perizinan & Regulasi
Di Indonesia, makanan kaleng wajib memiliki izin edar BPOM dan sertifikasi halal jika ingin dijual luas. Proses ini memakan waktu dan biaya, apalagi jika ada revisi formulasi.
📌 Catatan: Jangan terburu-buru produksi massal sebelum izin keluar. Produk tanpa izin bisa disita, dan citra merekmu bisa langsung jatuh.
BACA JUGA :
Rendang Kaleng dari Payakumbuh
Salah satu contoh sukses datang dari UMKM di Payakumbuh yang memproduksi rendang kaleng. Mereka memulai dengan modal sekitar Rp80 juta untuk mesin dan bahan baku. Tantangan terbesarnya? Edukasi pasar bahwa rendang kaleng tetap segar dan aman dikonsumsi tanpa bahan pengawet.
Solusinya: Mereka rutin mengadakan food testing di pasar dan festival kuliner, sehingga konsumen bisa mencicipi langsung. Hasilnya, penjualan naik 35% dalam setahun.
Bagaimana Menilai Kesiapan Kamu?

Gunakan checklist ini:
- Produk unik yang punya pasar jelas
- Modal awal mencukupi hingga minimal 3 bulan beroperasi
- Siap memenuhi standar keamanan pangan BPOM
- Strategi pemasaran yang tidak hanya mengandalkan “numpang tren”
- Rencana distribusi dan kemasan yang efisien
- Mental tahan banting menghadapi revisi dan kritik
Tantangan Bukan Halangan
Memulai bisnis makanan kaleng di era sekarang memang penuh tantangan: dari modal besar, regulasi ketat, hingga persaingan pasar. Tapi dengan persiapan matang, riset mendalam, dan strategi yang tepat, peluang untuk sukses tetap besar.
Kalau kamu punya resep andalan, kenapa tidak?
Seperti kata pepatah bisnis:
“Peluang selalu menyamar sebagai kerja keras.”
Mulailah dengan langkah kecil, tetapi pastikan setiap langkah punya arah yang jelas.


