Kenapa Produksi Makanan Ready to Eat Kemasan Pack Tersendat - INAGI

Kenapa Produksi Makanan Ready to Eat Kemasan Pack Tersendat

INAGI – Pernahkah Anda sedang ingin mencoba usaha makanan siap saji (ready to eat), semua bahan sudah siap, resep sudah oke, tapi tiba-tiba proses produksi macet di tengah jalan? Atau mungkin Anda pernah mendengar cerita dari teman yang sudah memulai bisnis makanan kemasan, namun kesulitan menjaga konsistensi produk sehingga harus menunda produksi.

Fenomena ini sering terjadi, bahkan pada perusahaan besar sekalipun. Padahal, tren makanan ready to eat (RTE) semakin digemari karena praktis, awet, dan mudah dibawa. Namun di balik kemasan yang rapi dan cantik, ada segudang tantangan yang bisa menghambat jalannya produksi.

Artikel ini akan mengajak Anda membongkar apa saja masalah yang sering muncul dalam produksi makanan ready to eat kemasan pack, dengan bahasa yang ringan, contoh nyata, hingga tips praktis agar lebih siap menghadapinya.

Mengapa Produksi Makanan Ready to Eat Tidak Semudah yang Dibayangkan?

Jika dilihat dari luar, mungkin kita berpikir: “Ah, tinggal masak, masukkan ke dalam kemasan, lalu jual.” Namun faktanya, ada banyak detail teknis dan non-teknis yang memengaruhi.

Bayangkan membuat rendang untuk keluarga di rumah. Masalah yang sering muncul mungkin cuma: keasinan, gosong sedikit, atau kehabisan santan. Nah, dalam skala produksi, masalahnya bisa berlipat ganda: mulai dari bahan baku tidak konsisten, mesin tidak bekerja maksimal, hingga standar keamanan pangan yang ketat.

Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), produksi makanan siap saji adalah salah satu sektor yang paling kompleks karena harus memenuhi aspek rasa, keamanan, dan kepraktisan sekaligus. Jadi wajar jika hambatan muncul di banyak titik.

BACA JUGA :

Masalah yang Sering Menghambat Produksi Makanan Ready to Eat

makanan ready to eat

1. Kualitas Bahan Baku yang Tidak Konsisten

Seperti pepatah “garbage in, garbage out”, kualitas bahan mentah sangat menentukan hasil akhir. Jika daging ayam tidak segar, maka produk ayam kemasan bisa cepat basi. Begitu juga dengan sayuran yang cepat layu.

Ibarat membuat kopi. Kalau biji kopinya kualitas rendah, pakai mesin secanggih apa pun hasilnya tetap kurang nikmat.

Checklist untuk Mengecek Masalah Bahan Baku:

  • Apakah pemasok Anda punya sertifikat keamanan pangan (misalnya HACCP)?
  • Apakah bahan baku sering berubah rasa, tekstur, atau warna?
  • Apakah ada SOP (Standard Operating Procedure) untuk penyimpanan bahan baku?

2. Mesin Produksi yang Tidak Optimal

Mesin seperti retort sterilizer, vacuum sealer, atau filling machine adalah tulang punggung produksi. Jika mesin sering rusak atau tidak sesuai kapasitas, produksi pasti tersendat.

Menurut jurnal Journal of Food Engineering (2021), downtime mesin bisa menyebabkan kerugian hingga 30% dari total kapasitas produksi makanan siap saji.

Sebuah UMKM di Jawa Barat memproduksi sop buntut kemasan. Awalnya mereka hanya menggunakan mesin sederhana. Namun, produk sering rusak sebelum tanggal kedaluwarsa. Setelah berinvestasi pada mesin retort modern, daya tahan produk meningkat hingga 6 bulan tanpa pengawet tambahan.

3. Standar Keamanan Pangan yang Rumit

Siapa pun yang ingin serius di bisnis ini pasti harus mengikuti standar keamanan pangan. Misalnya:

  • BPOM untuk izin edar di Indonesia
  • Sertifikasi halal MUI
  • HACCP atau ISO 22000 jika ingin ekspor

Proses ini tidak jarang membuat pelaku usaha bingung. Tapi di sisi lain, inilah benteng utama agar produk bisa diterima pasar dengan aman.

Kadang rasanya lebih gampang meluluhkan hati calon mertua dibanding meluluhkan syarat administrasi izin edar makanan. Tapi keduanya sama-sama penting, kan?

4. Kemasan yang Tidak Tepat

Jangan salah, kemasan bukan hanya soal desain cantik. Kemasan yang buruk bisa membuat produk cepat rusak. Misalnya:

  • Plastik yang tidak tahan panas akan meleleh saat proses sterilisasi.
  • Tutup yang tidak rapat bisa membuat udara masuk dan memicu bakteri.

Tabel Perbandingan Jenis Kemasan Ready to Eat:

Jenis KemasanKelebihanKekurangan
Retort pouch (aluminium foil berlapis)Ringan, tahan panas, awetLebih mahal
KalengSangat awet, bisa tahan bertahun-tahunBerat, butuh mesin seamer
Plastik PP/PEMurah, fleksibelKurang tahan lama

5. Kurangnya Tenaga Kerja Terlatih

Sering kali, karyawan di bagian produksi hanya fokus “bekerja cepat” tanpa memperhatikan detail keamanan. Padahal, satu kesalahan kecil bisa berakibat besar.

Jika pekerja lupa mencuci tangan sebelum packing, bakteri bisa langsung masuk ke produk.

Checklist Pelatihan Karyawan:

  • Sudahkah semua staf tahu cara mencuci tangan yang benar?
  • Apakah ada pelatihan rutin soal hygiene?
  • Apakah karyawan paham cara menangani mesin dengan aman?

6. Manajemen Produksi yang Kurang Efisien

Masalah lain adalah koordinasi. Misalnya: bahan baku datang telat, mesin sudah siap, tapi tenaga kerja belum datang. Atau sebaliknya, tenaga kerja sudah standby, tapi bahan baku belum tersedia.

Menurut riset dari International Journal of Production Economics, manajemen yang buruk bisa menurunkan efisiensi produksi hingga 25%.

7. Distribusi dan Penyimpanan

Setelah produk jadi, masalah belum selesai. Rantai distribusi juga rawan hambatan:

  • Suhu penyimpanan tidak sesuai
  • Gudang lembap
  • Pengiriman terlalu lama tanpa pendingin

Produk makanan siap saji itu seperti artis. Sudah dandan cantik, kalau dijemput pakai motor kehujanan, ya tetap berantakan sampai lokasi.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tenang, semua masalah di atas bukan berarti tidak ada solusinya. Berikut beberapa langkah yang bisa membantu:

  1. Bangun kerja sama dengan pemasok bahan baku terpercaya – pilih yang punya standar sertifikasi.
  2. Investasi mesin sesuai kebutuhan – jangan tergiur murah, karena mesin adalah jantung produksi.
  3. Pahami regulasi sejak awal – lebih baik capek di awal daripada repot di akhir.
  4. Pilih kemasan yang sesuai produk – jangan hanya fokus pada desain, tapi juga fungsional.
  5. Lakukan pelatihan rutin – karyawan yang paham lebih berharga daripada karyawan yang hanya cepat.
  6. Gunakan sistem manajemen produksi – mulai dari software sederhana hingga ERP (jika skala besar).
  7. Pastikan cold chain distribusi terjaga – terutama untuk produk yang butuh suhu tertentu.

Produksi Ready to Eat Butuh Kesabaran dan Strategi

Produksi makanan ready to eat kemasan pack memang penuh tantangan. Mulai dari bahan baku, mesin, standar keamanan, hingga distribusi, semua harus berjalan selaras. Tapi kabar baiknya, dengan perencanaan yang matang, investasi tepat, dan tim yang terlatih, hambatan bisa ditekan seminimal mungkin.

Ingat, bisnis makanan bukan hanya soal rasa. Ia adalah gabungan antara ilmu, seni, dan disiplin. Jadi, jika Anda sedang merintis usaha ini, jangan menyerah ketika hambatan muncul. Anggap saja seperti bermain sepak bola: setiap tantangan di lapangan adalah bagian dari strategi menuju kemenangan.

Home Shop Cart Account
Shopping Cart (0)

No products in the cart. No products in the cart.