INAGI – Pernahkah Anda membeli makanan ready to eat dalam kemasan praktis, tapi mendapati bagian segelnya kurang rapat, bocor, atau bahkan sulit dibuka? Nah, tahukah Anda, ternyata di balik “segel” sederhana itu, ada proses yang cukup rumit dan sering menjadi tantangan besar bagi produsen.
Bagi para pelaku usaha, terutama UMKM makanan, melakukan seal pada kemasan retort pack bukan hanya soal menutup rapat, tetapi juga tentang menjaga mutu, rasa, hingga keamanan produk. Kalau segel gagal, bisa dipastikan produk tidak bisa bertahan lama, bahkan berisiko ditolak konsumen. Masalahnya, banyak produsen mengeluhkan proses seal yang memakan waktu lama dan sering tidak konsisten.
Lalu, sebenarnya apa saja kendala yang membuat proses ini begitu rumit? Yuk, kita bedah bersama dengan cara santai namun tetap ilmiah.
Seal Retort Pack Itu Seperti Kunci Pintu Rumah
Bayangkan Anda punya rumah dengan pintu bagus dan dinding kokoh, tapi kuncinya rapuh atau tidak terpasang dengan benar. Apakah rumah itu bisa melindungi penghuninya? Tentu saja tidak. Begitu juga dengan makanan ready to eat: sekeren apa pun resep dan kemasannya, kalau seal tidak sempurna, produk jadi rentan rusak.
Menurut Journal of Food Engineering, keberhasilan proses sterilisasi makanan dalam retort pack sangat bergantung pada kualitas seal. Seal yang tidak rapat bisa menyebabkan kontaminasi mikroba dan memperpendek umur simpan produk.
BACA JUGA :
Kendala yang Membuat Seal Retort Pack Lama dan Bermasalah
1. Tekanan dan Suhu yang Tidak Stabil
Mesin sealer butuh pengaturan suhu dan tekanan yang pas. Kalau terlalu rendah, segel tidak rapat. Kalau terlalu tinggi, lapisan kemasan bisa rusak. Nah, mencari keseimbangan ini sering bikin produsen harus mencoba berulang-ulang.
2. Kualitas Bahan Kemasan
Tidak semua plastik atau lapisan aluminium foil cocok untuk retort. Ada produsen yang pakai kemasan murah, tapi justru membuat seal mudah bocor. Akhirnya, waktu produksi jadi molor karena harus memperbaiki banyak cacat.
3. Operator Belum Terlatih
Seal retort pack tidak bisa dikerjakan sembarangan. Tenaga kerja yang belum paham setting mesin sering salah dalam penyesuaian suhu, waktu, atau tekanan. Akibatnya, proses jadi lama karena harus diulang.
4. Kapasitas Mesin Terbatas
Bayangkan ada 500 pack makanan yang harus disegel, tapi mesin hanya bisa memproses 20 pack sekali jalan. Proses jadi panjang, energi habis, dan waktu produksi molor.
5. Perawatan Mesin Kurang Optimal
Mesin yang jarang dicek dan dibersihkan bisa bikin hasil seal tidak konsisten. Kadang rapat, kadang bocor. Ini memperlambat karena produsen harus sortir ulang produk.
Apakah Usaha Anda Mengalami Kendala Seal Retort Pack?
Coba jawab pertanyaan ini:
- Apakah proses seal sering harus diulang lebih dari sekali?
- Apakah banyak kemasan yang bocor setelah disterilisasi?
- Apakah mesin sealer sering overheat atau terlalu dingin?
- Apakah operator sering bingung mengatur setelan suhu dan tekanan?
- Apakah kapasitas mesin terasa terlalu kecil dibanding jumlah produksi?
Kalau jawaban “ya” lebih dari dua, kemungkinan besar usaha Anda memang sedang terhambat di tahap ini.
Studi Kasus Singkat
Sebuah UMKM di Malang yang memproduksi sarden kemasan retort pernah menghadapi masalah: 50 dari 200 pack bocor setelah proses sterilisasi. Setelah diteliti, ternyata suhu sealing terlalu rendah karena mesin sealer lama sudah tidak presisi. Waktu produksi molor hampir 2 kali lipat, dan produk yang bocor harus dibuang.
Setelah mengganti mesin dengan kapasitas lebih besar dan sistem kontrol suhu otomatis, kebocoran berkurang hingga 90%, dan produksi bisa selesai lebih cepat. Dari sini, terlihat jelas bahwa kendala seal bukan hanya masalah teknis kecil, tapi bisa berimbas besar pada biaya dan reputasi usaha.
Tabel Perbandingan: Seal Manual vs Seal dengan Mesin Retort Modern
| Aspek | Seal Manual / Mesin Lama | Seal Mesin Retort Modern (otomatis) |
|---|---|---|
| Konsistensi | Tidak stabil, sering bocor | Stabil, hampir tanpa cacat |
| Kecepatan Produksi | Lambat, harus diulang | Cepat, kapasitas besar |
| Biaya Produksi | Tinggi karena banyak reject | Efisien, minim produk gagal |
| Umur Simpan Produk | Pendek karena kebocoran | Lebih panjang dan aman |
| Tenaga Kerja | Butuh banyak operator | Cukup sedikit operator terlatih |
Rujukan Ahli
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), kualitas seal pada kemasan retort sangat menentukan food safety dan umur simpan produk. Seal yang tidak baik dapat menjadi pintu masuk bakteri berbahaya seperti Clostridium botulinum, yang bisa menyebabkan keracunan serius.
Dr. F. Hanani, pakar teknologi pangan dari IPB, juga menekankan bahwa keberhasilan teknologi retort tidak hanya pada proses sterilisasi, tapi terutama pada integritas seal kemasan.
Investasi pada Mesin yang Tepat
Di sinilah pentingnya produsen, terutama UMKM, untuk tidak menganggap enteng urusan sealing. Mesin dengan teknologi modern, seperti retort shaking system, bisa membantu menjaga kualitas seal lebih cepat dan konsisten. Selain itu, kapasitas produksi juga meningkat tanpa mengorbankan kualitas.
Seal Itu Mirip “Janji Manis”
Seal yang rapuh itu seperti janji manis tanpa bukti. Awalnya terlihat bagus, tapi begitu diuji, langsung bocor. Bedanya, kalau janji bisa bikin sakit hati, kalau seal bocor bisa bikin rugi materi. 😅
Kendala dalam melakukan seal retort pack pada makanan ready to eat bukan sekadar masalah teknis kecil. Ini adalah faktor krusial yang bisa memengaruhi kecepatan produksi, efisiensi biaya, hingga keamanan konsumen. Mulai dari suhu, tekanan, kualitas kemasan, operator, hingga kapasitas mesin, semuanya punya peran.
Jadi, kalau Anda pelaku usaha yang sering merasa “kenapa segel kemasan selalu lama dan bermasalah?”, mungkin ini saatnya mengevaluasi mesin dan sistem produksi Anda. Ingat, segel yang baik adalah kunci dari produk yang aman, tahan lama, dan dipercaya konsumen.


